SUARA INDONESIA - KH Abdurrahman Wahid atau dikenal Gus Dur pernah mengalami percobaan pembunuhan. Hal itu Lantaran Gus Dur terlalu kritis semasa zaman orde baru.
Namun demikian, alasan ingin menghabisi Gus Dur bukan alasan personal yang dilakukan oleh mantan Presiden di jaman orde baru. Hal itu dilakukan lantaran Gus Dur selalu membuat perlawanan di era orde baru.
"Saya melawan terus. Tapi niat Pak Soeharto itu bukan pribadi. Itu alasan politis, karena saya melawan terus," cerita Gus Dur dalam konten you tube, Satu Jam bersama Gus Dur.
Dikutip dari beberapa sumber, kala zaman orde baru Gus Dur pernah menggalang massa, bertepatan dengan hari ulang tahun Nahdlatul Ulama ke - 66.
Gus Dur ingin menggelar rapat akbar di istora senayan Jakarta. Tujuan itu untuk mendengungkan dialog antar agama dan reformasi pemikiran Islam di berbagai forum.
Sebagai ketua PBNU waktu itu, niatan Gus Dur bagian dari kampanye Gus Dur menentang politik sektarianisme yang mulai tumbuh di era orde baru.
Soeharto sempat risau dengan penggalangan massa yang dilakukan oleh Gus Dur.
Soeharto tidak terang - terangan melarang penggalangan massa yang dilakukan oleh Gus Dur. Namun, Soeharto melakukan tindakan - tindakan penggembosan.
Seperti Ijin pelaksanaan yang dimajukan sehari sebelum pelaksanaan, menghalangi kendaraan massa yang masuk ibu kota dan bahkan penghalangan juga dilakukan di Jawa Timur.
Gus Dur semakin menantang rezim orde baru kala Gus Dur kembali menduduki jabatan ketua PBNU untuk yang kedua kalinya.
Basis massa Nahdlatul Ulama yang begitu besar membuat Soeharto sangat khawatir dengan gerakan Gus Dur yang mengancam kedudukan Soeharto.
Keadaan semakin membuat panik Soeharto, ketika Gus Dur membuat perlawanan adanya bentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990.
Gus Dur mulai risau lantaran dalam wadah ICMI bentukan Soeharto terdapat kelompok kecil Islam radikal.
ICMI dinilai merupakan akal - akalan Soeharto untuk kepentingan politik semata.
Penolakan Gus Dur mempunyai dampak yang sangat luas, terlebih ketika Gus Dur membuat tandingan Forum Demokrasi yang dibentuk pada awal tahun 1991.
Telinga Soeharto semakin panas ketika forum demokrasi itu menyatakan sikap politik.
Soeharto pun merasa terganggu, lantaran pemilu 1992 sudah dekat. Forum bentukan Gus Dur itu secara terbuka membeber cara represif pemerintahan orde baru. Bahkan menyiarkan pergantian pemerintahan.
Soeharto mulai melakukan tindakan.
Dia sering membubarkan pertemuan pertemuan kecil yang dilakukan oleh forum demokrasi bentukan Gus Dur, dengan alasan tidak mengantongi izin.
Keadaan itu semakin meruncing kala soeharto meminta Gus Dur mundur dari kepemimpinan NU.***
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Mohammad Sodiq |
| Editor | : |
Komentar & Reaksi