SUARA INDONESIA - Peristiwa tangis pilu pernah mengguncangkan batin Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno.
Peristiwa itu terjadi detik detik menjelang eksekusi hukuman mati pada sahabat seperjuangannya sendiri Ir. Soekarno. Ia adalah Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo lahir di Cepu pada 1902 dari keluarga seorang mantri candu.
Kartosoewirjo sahabat Ir. Soekarno riwayat pendidikanya pernah mengenyam pendidikan sekolah ala Barat.
Bahkan sahabat Ir Soekarno itu sempat berkuliah di Nederlands Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda) di Surabaya, meski hanya selama empat tahun.
Sahabat seperjuangan Ir. Soekarno itu pernah dianggap subversif, karena terlibat gerakan politik bergabung dengan Jong Java, sehingga dia dikeluarkan dari sekolahnya.
Pamannya, Mas Marco Kartodikromo, adalah orang yang mengenalkannya pada gerakan nasionalis dan Marxisme.
Semenjak tidak sekolah, Kartosoewirjo lantas kemudian menjadi editor di koran Fadjar Asia.
Di Surabaya, Kartosoewirjo berguru kepada “Raja Jawa tak bermahkota” HOS Tjokroaminoto dan bahkan menjadi sekretaris pribadinya.
Dia juga menjalin pertemanan dengan murid Tjokroaminoto lainnya, Soekarno –yang kelak bersimpangan jalan dengannya.
Ketika bergabung dalam komisioner Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) Jawa Barat, dia menjalin hubungan dengan Ajengan Yusuf Taujiri, mentor dan guru spiritualnya.
Pemikiran Kartosoewirjo semakin radikal setelah dia mengetengahkan konsep hijrah pada kongres PSII tahun 1936.
Kartosoewirjo dan pendukungnya kemudian membuat faksi baru yang disebut Komite Pembela Kebenaran dan mendirikan Suffah Institut- sebuah lembaga pendidikan kader dengan meniru pola pesantren, khususnya pesantren yang ada di Malangbong, Garut- di Malangbong, kampung mertuanya.
Namun ide itu tak mendapat restu dari ajengan Yusuf. Suffah Institut pun tak berlanjut; beberapa dari mereka kembali ke desa masing-masing.
Saat Jepang masuk ke Indonesia, Kartosoewirjo bergabung dengan Madjlis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI) dan di Jawa Hokokai.
Bahkan dia aktif membina gerilyawan-gerilyawan di sekitar Banten dan memimpin sebuah laskar Hizbullah yang berbasis di Malangbong.
“Laskar-laskar binaan Kartosoewirjo ini tidak pernah dirangkul pemerintah saat itu,” kata Fadli Zon.
Pada 1949, Indonesia mengalami suatu perubahan politik. Saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, Kartosoewirjo yang kecewa dengan hasil keputusan Renville mendirikan sebuah negara Islam pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampak, kecamatan Cilugalar, kabupaten Tasikmalaya. Upaya ini dinilai pemerintah sebagai pemberontakan, dan segera mengambil langkah strategis guna menumpasnya.
Kemudian saat itu Kartosuwiryo Mendeklarasikan berdirinya sebuah negara Islam, yang sebetulnya sudah menderu dalam jiwa Kartosoewirjo sejak mendengar Jepang kalah atas sekutu, 6 Agustus 1945.
Deklarasi direncanakan pada 14 Agustus 1945. Saat itu Kartosoewirjo yang sudah pindah ke Jakarta meminta Kiai Yusuf untuk memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII), namun ditolak Kyai Yusuf.
Tahun 1946, Kartosoewirjo yang aktif sebagai Wakil Masyumi daerah Priangan tetap konsisten sikap politiknya dengan sikap nonkooperatif pada kaum penjajah.
Ia menolak perjanjian Linggarjati dan Renville. Ia dan laskar Hizbullah yang dibentuknya menolak meninggalkan Jawa Barat untuk hijrah ke Yogyakarta. Lalu bersama laskar Hizbullah dari Cirebon, Cicalengka, dan Blubur-Garut yang berada di bawah pimpinan Zainal Abidin, ia membentuk TII (Tentara Islam Indonesia).
Dengan kemerdekaan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia bersama teman-teman perjuangannya.
Tapi setelah kemerdekaan tercapai, lahirlah gejolak politik di atas kemerdekaan bangsa Indonesia yang menimbulkan pembunuhan terhadap Sosok teman baiknya.
Pasalnya, Sukarno merasakan tekanan batin kehilangan sosok pahlawan perjuangannya dan teman baiknya, yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo dengan terpaksa.
Kartosoewirjo dihukum mati oleh sistem Soekarno sendiri, dilihat langsung oleh Sukarno di saat penembakan hukum matinya, atas pemberontakannya yang ingin mendirikan negara Islam.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang tokoh Islam Indonesia yang mendirikan gerakan Darul Islam untuk melawan pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga tahun 1962, dengan tujuan mendirikan Negara Islam Indonesia berdasarkan hukum syariah.
Di kutib dari Cenel you tube "Mata hati pemuda". Sukarno membunuh Kartosuwiryo atas dasar pergerakannya yang sangat membahayakan kesatuan dan ideologi Pancasila yang sudah diproklamasikan.
Bahkan saat kemerdekaan bangsa Indonesia telah dicapai, kartosuwiryo mendirikan negara Islam di Banten.
Hingga pada akhirnya Kartosuwirjo di buru dan melarikan diri ke hutan begitu lama hingga tubuh beliau lebih tua dan keriput dari sebelumnya saat di tangkap oleh Suruhan Soekarno.
Pada akhirnya Kartosuwiryo di hukum mati, dalam eksekusi mati penembakannya Kartosuwiryo dengan berkata Allahuakbar allahuakbar.
Di saat itu juga Sukarno menangis meneteskan air mata dan merasakan rasa terpaksa kehilangan sosok sahabatnya.
(Rosy/Rul)***
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Hoirur Rosikin |
| Editor | : |
Komentar & Reaksi