SUARINDONESIA - Bulan Muharram adalah bulan mulia karena termasuk dari salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah S.A.W.
Kemuliaan Bulan Muharram tidak lepas dari berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya, bahkan Allah S.W.T. menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada bulan tersebut.
Rasulullah SAW menyebut Bulan Muharram dengan istilah Syahrullah (bulan Allah).
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: “Afdholus shiyaami ba’da ramadhaana syahrallahil muharram, wa afdholus shalaati ba’dal faridoti shalaatul lail”.
Paling utama amalan puasa setelah puasa Ramadhan ialah berpuasa pada Bulan Muharram. Dan paling utamanya shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.
Penetapan Bulan Muharram sebagai bulan pertama pada kalender hijriyah dilatarbelakangi oleh peristiwa pada tahun ketiga pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.
Kala itu, pemerintahan sedang dirundung masalah dikarenakan tidak adanya angka tahun pada tahun hijriyah.
Sehingga datanglah usulan gubernur Basyrah waktu itu (Abu Musa Al-Asy’ari r.a.).
Atas dasar usulan beliau, Khalifah Umar bin Khattab r.a. menerbitkan Kalender Islam setelah bermusyawarah dengan sahabat terkemuka.
Hasil musyawarah memutuskan, awal Kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Rasulullah SAW. Sebab itulah, kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah.
Selanjutnya, Utsman bin Affan r.a. mengusulkan Bulan Muharram sebagai bulan pertama pada Kalender Hijriyah.
Hal itu bukan tak beralasan, karena sejak dulu masyarakat arab sudah menganggap Bulan Muharram sebagai bulan pertama.
Alasan kedua, umat Islam pada Bulan Muharram telah dalam keadaan selesai melaksanakan ibadah haji yang dilakukan pada bulan sebelumnya.
Ketiga, Bulan Muharram adalah bulan di mana umat Islam kala itu bertekad untuk hijrah ke Madinah, setelah pada bulan sebelumnya / Dzulhijjah terjadi Bai’at Aqabah II.
Oleh karena Muharram adalah bulan pertama pada Kalender Hijriyah, setiap 1 muharram diperingati sebagai Tahun Baru Hijriyah.
(Wae/Rul)***
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Haerul Anwar |
| Editor | : Bahrullah |
Komentar & Reaksi