SUARAINDONESIA - Bulan Suro atau Muharram disebut sebut bulan duka bagi umat islam.
Bulan Suro disebut bulan duka bagi umat islam, karena ada sejarah yang memilukan bagi cucu Nabi Muhammad SAW.
Bulan Suro tanggal 10, seluruh cucu-cucu Rasulullah terbunuh oleh Yazid bin Muawiyah.
Bulan Suro juga banyak peristiwa penting yang terjadi di muka bumi ini.
Hal sebagaimana dijelaskan oleh KH Ahmad Muwafiq atau yang kerap disapa Gus Muwafiq dalam sebuah rilis resmi oleh akun Instagram @nuchannels pada Sabtu (30/07/2022).
Gus Muwafiq membeberkan bahwa orang Indonesia, khususnya Jawa menyambut bulan Muharram' dengan sebutan bulan Suro.
"Ekornya saja yang diambil. Karena orang Jawa itu suka mengambil ekornya saja. Muhammad diambil Mad, Asyura' diambil Suro," katanya.
Selain itu, Gus Muwafiq juga menguraikan tradisi yang ada di Indonesia saat bulan Muharram.
"Di Jawa ada tradisi tidak mantu, tidak menikahkan anak karena itu bulan Suro atau Muharram bulan duka," katanya, menguraikan.
Kemudian di Jogja, lanjut Gus Muwafiq, ada tradisi keliling beteng.
"Maksudnya di bulan Suro jangan terlalu banyak mulut. Jaga mulut," lanjutnya.
Gus Muwafiq juga menjelaskan tradisi di Solo yaitu tradisi yang mengikuti kerbau Kyai Selamat.
"Kalau kebonya keluar kotorannya, diusapkan ke seluruh tubuh. Ini bulan duka, jangan bersolek," jelasnya.
Biasanya, lanjut Gus Muwafiq, masyarakat Indonesia di bulan Suro atau Muharram banyak menyantuni anak yatim.
"Biasanya bulan Suro (Muharram) di Indonesia diikuti dengan santunan anak yatim," pungkasnya.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Bahrullah |
| Editor | : |
Komentar & Reaksi